Rabu, 05 November 2014

SANAD - SILSILAH KEGURUAN NU (NAHDLATUL ULAMA) SAMPAI KEPADA NABI ADAM AS.

Pengertian.

          Sanad ilmu atau sanad guru adalah rantai ilmu atau rantai guru yang tersambung kepada lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Sanad ilmu atau sanad guru yang
tersambung kepada lisannya Rasulullah berlaku untuk seluruh umat Islam
Jadi sebuah pendapat atau pemahaman atau fatwa wajib ada ketersambungan dengan lisannya Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam.

          Kalau tidak ada ketersambungan artinya hanyalah prasangka atau akal pikiran manusia semata yang berunsurkan hawa nafsu atau kepentingan semata.

Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
“di dalam agama itu tidak ada
pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya. ” (Hadits
riwayat Ath-Thabarani)

Perlunya Sanad Guru dalam menuntut ilmu.

Berkata Imam Ibnu Sirin :
Ilmu itu adalah agama, Maka perhatikanlah dari siapa kamu mengambil agama (ilmu agama tersebut).

Telah bersabda Rosululloh Sholallohu 'Alayhi Wa Sallam :
"Siapa orangnya yang menguraikan Al-Qur'an dengan akal pikirannya sendiri, Sesungguhnya ia telah berbuat kesalahan". (HR. Ahmad).

Sanad itu bagian dari agama, Jika tidak karena sanad maka setiap orang akan berkata apa saja yang dikehendakinya (Yaitu dalam
urusan agama tanpa ilmu mendalam tentangnya) Muqoddimah Shahih Muslim Imam Mubarok.

          Ingatlah....Ukuran kelayakan keilmuan yang sebenarnya dalam neraca pembelajaran dan pengajaran ilmu-ilmu agama yang
murni bukanlah pada ukuran akademis MODERN yang merupakan
acuan tradisi barat, tetapi ukuran sebenarnya adalah pada sandaran (sanad) keilmuan seseorang yang mengajar ilmu
agama, baik sanad ilmi, ijazah tadris, ijazah 'ammah yang disertai ijazah tadris maupun lainnya yang menjadi sumber rujukan.

Imam Sufyan Atsauri berkata :
Sanad adalah senjata seorang mukmin, Bila ia tidak memiliki senjata maka dengan apa ia berperang???

Syu'bah bekata :
Setiap hadits yang tidak terdapat di dalam kalimat Haddatsana (Telah menceritakan kami) dan Akhbarona (Telah mengabarkan kami), Maka ia seperti seseorang lelaki di tanah lapang bersama seekor keledai yang tidak memiliki tali kekang.

Ibnul Mubarak berkata :
” Sanad merupakan bagian dari agama,
kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya
(dengan akal pikirannya sendiri). ” (Diriwayatkan oleh Imam
Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 ).

Imam Malik ra berkata:
“ Janganlah engkau membawa ilmu (yang kau pelajari) dari orang yang tidak engkau ketahui
catatan (riwayat) pendidikannya (sanad ilmu) ”

Dari Ibnu Abbas ra Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda…
” Barangsiapa yg berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu maka ia menyediakan tempatnya sendiri di dalam neraka ” (HR.Tirmidzi).

Imam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan:
“tiada ilmu tanpa sanad ”.

Al-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan :
“Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga ”.

Bahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki
susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203.

Dan masih banyak lagi pendapat para Ulama tentang sanad.

Dalam ilmu agama tidak ada hal yang baru, semua harus sesuai dengan apa yang disampaikan oleh lisannya Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya
“ Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra’il dan itu tidak apa (dosa).
Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka” (HR
Bukhari).

Hakikat makna hadits tersebut adalah kita hanya boleh menyampaikan satu ayat yang diperoleh dari para ulama yang
sholeh dan disampaikan secara turun temurun yang bersumber dari lisannya Sayyidina Muhammad bin Abdullah Shallallahu alaihi wasallam.

Oleh karenanya ulama dikatakan
sebagai pewaris Nabi.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, :

“ Ulama adalah pewaris para nabi ” (HR At-Tirmidzi).

Ulama pewaris Nabi artinya menerima dari ulama-ulama yang sholeh sebelumnya yang tersambung kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Pewaris Nabi artinya menerima dan mengikuti risalah Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan
baik dan benar secara kaaffah meliputi aqidah (Iman) , ibadah
(Islam/syariat) dan akhlaq (Ihsan/tasawuf).

Dalam tradisi belajar dan mengajar dikalangan pelajar dan umat islam, sanad
ilmu menjadi unsur yang sangat penting dan utama.

Mungkin para penuntut ilmu pada masa zaman sekarang
kini punya pandangan bahwa mencari pengetahuan agama
serta mendalaminya dapat dilakukan dengan cara instan.
Karena banyak buku2 agama sudah diterjemahkan, diringkas dan dibahas secara tematis dan faktual, begitu pula dengan
kecanggihan teknologi melalui dunia maya sebut saja Google misalnya.

Seseorang yang ingin menambah pengetahuan agama dan
mengetahui jawaban atas berbagai permasalahan agama tak
perlu lagi bersusah payah mengaji kepada Ulama untuk sekian
lama dan membuka kembali kitab2 Turots (yaitu khazanah klasik) atau kita sebut petuah para Ulama.
Pendapat ini memang sepintas benar.
Tapi ingat ada suatu perkataan yang termasyur yang berbunyi :

MAN KAANA KITABUHU USTADZUHU FADHOLALUHU AKTSARU MIN FAHMIHI Artinya :
Siapa orangnya yang menjadikan kitab/buku sebagai gurunya, Maka ketersesatannya itu lebih banyak dari pada pemahamannya.

Maksudnya adalah meraih pengetahuan dengan sekedar mengandalkan buku bacaan, di khawatirkan akan
melibatkan seseorang kepada takwil atas teks yang tidak mengertinya, yang berimbas pada pengetahuan yang salah.

Contohnya seperti wudhu, sholat, dll itu bagaimana caranya?
Wal Iyaadzubillah...

Berkata Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa:

"Karena orang yang berguru tidak kepada guru tapi kepada buku saja tidak akan menemui kesalahannya, karena buku
tidak bisa menegur, sedangkan guru bisa menegur jika salah,
Atau jika ia tak paham maka ia bisa bertanya, Tapi kalau berguru hanya kepada buku, Jika ia tak paham ia hanya terikat dengan pemahaman dirinya".

Walau dmikian kita boleh membaca buku tapi kita juga harus mempunyai guru yang mana bisa bertanya kepadanya
jika kita mendapatkan masalah, terutama guru2 yang bersanad akan keilmuannya.

DAN INILAH SANAD-SILSILAH KEGURUAN NU (NAHDLATUL ULAMA) SAMPAI NABI ADAM
AS.

saya transkrif dari tausiyah nya Prof Dr KH Said Aqil Siradj MA.

1. Prof. DR. KH. Said Aqil Siradj.

2. KH. Hasyim Muzadi.

3. KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

4. KH.Wahid Hasyim.
Beliau orang yang sangat cerdas wafat dalam usia muda 39 tahun, Beliau menjadi ketua umum PBNU dan merangkap sebagai menteri agama, beliau juga mantan anggota inti team9 PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), jadi ulama NU ikut serta membuat kemerdekaan negara ini.

5. Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari.
Mbah Hasyim pulang dari Mekah mendirikan NU (NAHDATUL ULAMA).

6. Syaikh Mahfudz at-Termasi.
Beliau adalah (Mursyid Hadits Bukhori matan ke 23), murid beliau diantaranya:
-Syech Mahfud Termas - Pacitan
-Syech Arsyad Banjar Masin Martapura.
-Syech Somas - Palembang.
-Syech Arsyad Al Banjari - Banjarmasin
-Syeikhona Kholil - Bangkalan, Madura.
-Abdul Somad Al-Palembangi.
Sejumlah murid yg berhasil di cetak beliau Syeikhona Kholil Bangkalan diantaranya adalah Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy'ari (tebu ireng, jombang),  KH Wahab Hasbulloh (Tambak beras, jombang), KH Bisri Syansuri (Denanyar, jombang), KH As’ad Syamsul Arifin (Sukorejo Situbondo), Kiai Cholil Harun
(Rembang), Kiai Ahmad Shiddiq (Jember), Kiai Hasan (Genggong Probolinggo), Kiai Zaini Mun’im (Paiton Probolinggo), Kiai Abi Sujak (Sumenep), Kiai Toha (Bata-Bata Pamekasan), Kiai Usymuni (Sumenep), Kiai Abdul Karim (Lirboyo Kediri), Kiai Munawir (Krapyak Yogyakarta), Kiai Romli Tamim (Rejoso Jombang), Kiai Abdul Majid (Bata-Bata Pamekasan). Dari sekian banyak santri Syaikhona Kholil pada umumnya menjadi pengasuh pesantren dan tokoh NU di Nusantara.

7. Syaikh Nawawi al-Bantani.
Karangan Kitabnya : Syarh safinatunnaja, syarh sulamut taufiq, dll.
Yang mayoritas Ulama Di Indonesia memakai karangan Syeikh Nawawi Al Bantani sebagai rujukan.

8. Sayyid Ahmad Zaini Dahlan.
Karangan Kitab nya : Kitab syarh Jurumiyah, Syarh Al Fiyah, Addurorru Sanniyah, Al Muttamimmah,  dll.

9. Imam Ahmad ad-Dasuqi.
Karangan Kitabnya: Ummul Barohin, dll.

10. Imam Ibrahim al-Baijuri.
Karangan Kitabnya : Jauhar Tauhid (yang diterjemahkan ke bahasa jawa oleh KH Sholeh Darajat -Semarang), dll.

11. Imam Abdullah as-Sanusi.
Karangan Kitabnya Kitab Al Aqidatul Kubro, dll.

12. Imam ‘Abduddin al-‘Iji.
Karangan Kitabnya : Kitab Al Mawaqit Fi Ilmil Kalam 7 jilid, dll.

13. Imam Muhammad bin Umar Fakhrurrazi.
Karangan Kitabnya : Kitab Tafsir Mafatihul Ghoib 16 jilid, Ilmu Kalam Al Matholibul Aliyah 5 jilid, Mabahisul Masyiqiyah, Ushul fiqh Al Mahsul Fib Ilmi Usul 5 jilid, dll.

14. Imam Abdul Karim asy-Syahrastani.
Karangan Kitabnya: AlMilal Wal Nikhal, Mushoro Abdul Falashifa, dll.

15. Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad al-Ghozali.
Karangan kitabnya : Kitab Ihya Ulumuddin, Al Wajiz, Al Washit, Al Basith, Ma'Arijul Quds, Bidatul Bhidayah,  Misyakatul Anwar, Minhajul Qowin, Minhajul Abidin, dll.

16. Imam Abdul Malik al-Haramain al-Juwaini.
Karangan Kitabnya: Kitab Lathoiful Isyaroh, As Samil, Al Irsyad, Al Arba'in, Al Kafiyah, dll.

17. Imam Abubakar al-Baqillani.
karangannya: Kitab At Tamhid, Al Insof, Al Bayan, Al Imdad, Al I'Jahz, dll.

18. Imam Abdullah al-Bahili.

19. Imam Abu al-Hasan Ali al-Asy’ari.
Pendiri Faham Ahlussunah Wal jama'ah
kurang lebih 234 kitab karangannya           diantaranya : Kitab Maqolatul islaminyin, Al    Ibanah, Al Risalah, Al Luma, dll.

20. Abu Ali al-Juba’i.

21. Abu Hasyim al-Juba’i.

22. Abu al-Hudzail al-‘Allaf.

23. Ibrahim an-Nadzdzam.

24. Amr bin Ubaid.
Beliau adalah penemu Ilmu Balaghoh.

25. Washil bin Atha’.
Beliau adalah penemu Ilmu kalam.

26. Sayyidina Muhammad bin Ali bin Abi Thalib.

27. Sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw.

28. Sayyidina Rasulullah Muhammad Saw.

29. Malaikat Jibril As.

30. Allah Swt.

Nabi Muhammad Saw.

29. bin Syaikh Abdullah.
30. bin Abdul Muthalib (Syaibah).
31. bin Hasyim (Amr).
32. bin Abdu Manaf (al-Mughirah).
33. bin Qushay (Zaid).
34. bin Kilab.
35. bin Murrah.
36. bin Ka’ab.
37. bin Luaiy.
38. bin Ghalib.
39. bin Fihr (Quraisy).
40. bin Malik.
41. bin Nadhr (Qais).
42. bin Kinanah.
43. bin Khuzaimah.
44. bin Mudrikah (Amir).
45. bin Ilyas.
46. bin Mudhar.
47. bin Nizar.
48. bin Ma’ad.
49. bin ‘Adnan.
50. bin ‘Ad.
51. bin Udad.
52. bin Hamaisa’.
53. bin Salaman.
54. bin Banat.
55. bin Haml.
56. bin Qidrah.
57. bin Isma’il.
58. bin Ibrahim.
59. bin Târakh.
60. bin Nakhur.
61. bin Syarukh.
62. bin Arghu.
63. bin Falikh.
64. bin Abir.
65. bin Syalikh.
66. bin Arfakhsyad.
67. bin Sam.
68. bin Nuh.
69. bin Lamak.
70. bin Matusyalikh.
71. bin Akhnukh.
72. bin Idris.
73. bin Ilyarid.
74. bin Mihlayil.
75. bin Qinan.
76. bin Anusy.
77. bin Syits.
78. bin Adam As.

PBNU sudah menerbitkan dalam bentuk poster sanad-silsilah
keilmuan ilmiah dari Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari sampai
Rasulullah Saw. yang telah ditash-hih oleh Rais ‘Am Nahdlatul
Ulama KH. Sahal Mahfudz. Silakan pesan langsung di kantor PBNU
pusat Jakarta seharga Rp. 20.000.

Dikutip dari ceramah Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, M.A. dalam acara Haul KH. Mahfudz Hasbullah ke-29 PP Al-
Huda Jetis-Kebumen tanggal 06 Januari 2014. Silakan simak di:

http://www.youtube.com/watch?v=btmKLKbrZC4

Nb.: Ini baru satu jalur saja. Coba bayangkan jika kesemua kyai NU
dari berbagai cabang keilmuannya dicatatkan sanad-silsilahnya tentu akan menjadi satu kitab yang sangat tebal.

Selasa, 04 November 2014

BURDAH KA’AB BIN ZUHAIR RA (PUJIAN BUAT NABI SAW)

Memetakan hak-hak Allah dan RasulNya adalah satu diantara tujuan penting dalam aqidah ahlussunnah wal jama’ah. Tidak heran jika beberapa orang dengan intuisi sastra transcendent (sufi) menuangkan buah tulisannya perihal hubungan dirinya dengan Allah dan RasulNya.
Jika saja kita dapat merangkai sebuah tema sentral mengenai tujuan hidup kita, tak lain mencerna serta memahami perilaku salik (orang yang menuju ridlo Allah) untuk mencapai Akhlaqul Karimah. Lewat karya-karya sastra merekalah kita bisa meneguhkan aqidah kita.

Memuji Rasulullah adalah sebuah hal terpuji. Para sahabat Rasulullah seringkali mengungkapkan pujian kepada Rasulullah
dalam gubahan syair di depan beliau, bahkan menyampaikannya ketika sedang berada di masjid. Rasulullah pun senang dengan
pujian syair yang mereka lantunkan. Terdapat beberapa sahabat yang dikenal sebagai penyair di era nabi, di antaranya adalah Hasan
bin Tsabit, Abdullah bin Rowahah, dan Ka’ab bin Zuhair. Sebuah syair yang terkenal dalam memuji Rasulullah adalah syi’ir Ka’ab bin
Zuhair yang dikenal dengan “banat su’ad”. Syair ini secara keseluruhan berjumlah 34 bait.

Ka’ab bin Zuhair adalah seorang penyair. Sebelum memeluk Islam, ia pernah membuat tiga bait syair yang membuat nabi murka dan
menghalalkan darahnya. Dalam syair itu, ia mencela, dan mencaci maki kakaknya, yang bernama Bujair yang telah masuk islam, dalam sayair itu  Ka'ab berkata:

"Samapikan kepada Bujair apa yang dia katakan itu salah, dia kumpul kumpul bersama Al ma'mun (Nabi Muhammad saw), minum arak, mabuk mabukan, bahwa Muhammad saw meninggalkan Agama ayah dan ibunya.  Akhirnya berita sampai kepada Rasululloh SAW bahwa Nabi dituduh setiap malam minum arak, mabuk mabukan, dan kalau sudah mabuk keluar omongan yang gak karu karuan, pantun-pantun , sajak-sajak, mantra-mantra, (Al Qur'an maksudnya) entah dari jin mana datangnya.
Syahabat usul kepada Rasululloh, ijin kan kami akan mencari Ka'ab bin Zuhair dan kalau sudah ketemu saya beresin (bunuh-red).
Dan Nabi SAW mengijinkan, Sampailah berita kepada Ka'ab bin Zuhair , dia lagi DPO, lagi dicari dan kalau ketemu pasti dibunuh.
Dia sangat ketakutan dan datang ke Madinah, datang subuh- subuh,  Nabi SAW baru sajah mengimami sholat subuh , dia datang mukanya ditutup dengan sorban merah (Surban badui kata kang Said Aqil Siradj dalam ceramahnya), beliau duduk di depan Rasul SAW dan berkata:

Wahai muhammad saya dengar engkau di caci maki sama seorang penyair terkenal Ka'ab bin Zuhair bin Abi Salma, jawab Rosul SAW YA!!
Dan saya dengar juga kamu perintahkan syahabat mu mencarinya dan kalau ketemu akan membunuhnya dan kamu ijinkan mereka membunuh? jawab Rosul SAW,,  YA!!
Kalau dia datang kesini dan minta maaf apakah kamu memaafkannya?
jawab Rosul SAW, YAA!! saya maafkan!!
kalau dia mau masuk islam dipercaya tidak?
jawab Rosul YAA! saya percaya!!
Kemudian dia buka tutup muka nya dengan mengatakan sayalah Ka'ab bin Zuhair bin Abi Salma, silahkan akan engkau apakan akulah orang yang kamu cari ini wahai Rosululloh.
Akhirnya Nabi Saw memaafkannya dan Ia pun menyatakan keislamannya di depan Nabi Saw dan merubah isi syair yang mencela Beliau Saw dan syahabat  Abu bakar,
lalu melantunkan sebuah syair yang keindahannya diakui oleh para pakar bahasa, yang diawali dengan bait banat su’adu fa
qolbil yauma matbulu.

ﺑـﺎﻧَﺖْ ﺳُـﻌﺎﺩُ ﻓَـﻘَﻠْﺒﻲ ﺍﻟﻴَﻮْﻡَ ﻣَﺘْﺒﻮﻝُ * ﻣُـﺘَـﻴَّﻢٌ ﺇﺛْـﺮَﻫﺎ ﻟـﻢ ﻳُـﻔَﺪْ ﻣَـﻜْﺒﻮﻝُ
ﻭَﻣَـﺎ ﺳُـﻌَﺎﺩُ ﻏَـﺪﺍﺓَ ﺍﻟﺒَﻴْﻦ ﺇِﺫْ ﺭَﺣَﻠﻮﺍ * ﺇِﻻّ ﺃَﻏَـﻦُّ ﻏﻀﻴﺾُ ﺍﻟﻄَّﺮْﻑِ ﻣَﻜْﺤُﻮﻝُ
ﻫَـﻴْـﻔﺎﺀُ ﻣُـﻘْﺒِﻠَﺔً ﻋَـﺠْﺰﺍﺀُ ﻣُـﺪْﺑِﺮَﺓً * ﻻ ﻳُـﺸْﺘَﻜﻰ ﻗِـﺼَﺮٌ ﻣِـﻨﻬﺎ ﻭﻻ ﻃُﻮﻝُ
ﺗَﺠْﻠُﻮ ﻋَﻮﺍﺭِﺽَ ﺫﻱ ﻇَﻠْﻢٍ ﺇﺫﺍ ﺍﺑْﺘَﺴَﻤَﺖْ * ﻛـﺄﻧَّـﻪُ ﻣُـﻨْـﻬَﻞٌ ﺑـﺎﻟﺮَّﺍﺡِ ﻣَـﻌْﻠُﻮﻝ ُ
ﺷُـﺠَّﺖْ ﺑِـﺬﻱ ﺷَـﺒَﻢٍ ﻣِﻦْ ﻣﺎﺀِ ﻣَﻌْﻨِﻴﺔٍ * ﺻـﺎﻑٍ ﺑﺄَﺑْﻄَﺢَ ﺃﺿْﺤَﻰ ﻭﻫْﻮﻣَﺸْﻤﻮﻝُ
ﺗَـﻨْﻔِﻲ ﺍﻟـﺮِّﻳﺎﺡُ ﺍﻟﻘَﺬَﻯ ﻋَﻨْﻪُ ﻭﺃﻓْﺮَﻃُﻪُ * ﻣِـﻦْ ﺻَـﻮْﺏِ ﺳـﺎﺭِﻳَﺔٍ ﺑِﻴﺾٌ ﻳَﻌﺎﻟِﻴﻞُ
ﺃﻛْـﺮِﻡْ ﺑِـﻬﺎ ﺧُـﻠَّﺔً ﻟـﻮْ ﺃﻧَّﻬﺎﺻَﺪَﻗَﺖْ * ﻣَـﻮْﻋﻮﺩَﻫﺎ ﺃَﻭ ْﻟَﻮَ ﺃَﻥَِّ ﺍﻟﻨُّﺼْﺢَ ﻣَﻘْﺒﻮﻝُ
ﻟـﻜِﻨَّﻬﺎ ﺧُـﻠَّﺔٌ ﻗَـﺪْ ﺳِـﻴﻂَ ﻣِﻦْ ﺩَﻣِﻬﺎ * ﻓَـﺠْـﻊٌ ﻭﻭَﻟَـﻊٌ ﻭﺇِﺧْـﻼﻑٌ ﻭﺗَـﺒْﺪﻳﻞُ
ﻓـﻤﺎ ﺗَـﺪﻭﻡُ ﻋَـﻠَﻰ ﺣـﺎﻝٍ ﺗﻜﻮﻥُ ﺑِﻬﺎ * ﻛَـﻤﺎ ﺗَـﻠَﻮَّﻥُ ﻓـﻲ ﺃﺛْـﻮﺍﺑِﻬﺎ ﺍﻟـﻐُﻮﻝُ
ﻭﻻ ﺗَـﻤَﺴَّﻚُ ﺑـﺎﻟﻌَﻬْﺪِ ﺍﻟـﺬﻱ ﺯَﻋَﻤْﺖْ * ﺇﻻَّ ﻛَـﻤﺎ ﻳُـﻤْﺴِﻚُ ﺍﻟـﻤﺎﺀَ ﺍﻟـﻐَﺮﺍﺑِﻴﻞُ
ﻓـﻼ ﻳَـﻐُﺮَّﻧْﻚَ ﻣـﺎ ﻣَﻨَّﺖْ ﻭﻣﺎ ﻭَﻋَﺪَﺕْ * ﺇﻥَّ ﺍﻷﻣـﺎﻧِـﻲَّ ﻭﺍﻷﺣْـﻼﻡَ ﺗَـﻀْﻠﻴﻞُ
ﻛـﺎﻧَﺖْ ﻣَـﻮﺍﻋﻴﺪُ ﻋُـﺮْﻗﻮﺏٍ ﻟَﻬﺎ ﻣَﺜَﻼ * ﻭﻣــﺎ ﻣَـﻮﺍﻋِـﻴﺪُﻫﺎ ﺇﻻَّ ﺍﻷﺑـﺎﻃﻴﻞُ
ﺃﺭْﺟـﻮ ﻭﺁﻣُـﻞُ ﺃﻥْ ﺗَـﺪْﻧﻮ ﻣَـﻮَﺩَّﺗُﻬﺎ * ﻭﻣـﺎ ﺇِﺧـﺎﻝُ ﻟَـﺪَﻳْﻨﺎ ﻣِـﻨْﻚِ ﺗَـﻨْﻮﻳﻞُ
ﺃﻣْـﺴَﺖْ ﺳُـﻌﺎﺩُ ﺑِـﺄﺭْﺽٍ ﻻﻳُـﺒَﻠِّﻐُﻬﺎ * ﺇﻻَّ ﺍﻟـﻌِﺘﺎﻕُ ﺍﻟـﻨَّﺠﻴﺒﺎﺕُ ﺍﻟـﻤَﺮﺍﺳِﻴﻞُ
ﻭﻟَـــﻦْ ﻳُـﺒَـﻠِّﻐَﻬﺎ ﺇﻻّﻏُـﺬﺍﻓِـﺮَﺓٌ * ﻟـﻬﺎ ﻋَـﻠَﻰ ﺍﻷﻳْـﻦِ ﺇﺭْﻗـﺎﻝٌ ﻭﺗَﺒْﻐﻴﻞُ
ﻣِـﻦْ ﻛُﻞِّ ﻧَﻀَّﺎﺧَﺔِ ﺍﻟﺬِّﻓْﺮَﻯ ﺇﺫﺍ ﻋَﺮِﻗَﺖْ * ﻋُـﺮْﺿَﺘُﻬﺎ ﻃـﺎﻣِﺲُ ﺍﻷﻋْﻼﻡِ ﻣَﺠْﻬﻮﻝُ
ﺗَـﺮْﻣِﻲ ﺍﻟـﻐُﻴﻮﺏَ ﺑِﻌَﻴْﻨَﻲْ ﻣُﻔْﺮَﺩٍ ﻟَﻬِﻖٍ * ﺇﺫﺍ ﺗَـﻮَﻗَّـﺪَﺕِ ﺍﻟـﺤَـﺰَّﺍﺯُ ﻭﺍﻟـﻤِﻴﻞُ
ﺿَـﺨْـﻢٌ ﻣُـﻘَـﻠَّﺪُﻫﺎ ﻓَـﻌْﻢ ﻣُـﻘَﻴَّﺪُﻫﺎ * ﻓـﻲ ﺧَﻠْﻘِﻬﺎ ﻋَﻦْ ﺑَﻨﺎﺕِ ﺍﻟﻔَﺤْﻞِ ﺗَﻔْﻀﻴﻞُ
ﻏَـﻠْـﺒﺎﺀُ ﻭَﺟْـﻨﺎﺀُ ﻋَـﻠْﻜﻮﻡ ﻣُـﺬَﻛَّﺮْﺓٌ * ﻓــﻲ ﺩَﻓْـﻬﺎ ﺳَـﻌَﺔٌ ﻗُـﺪَّﺍﻣَﻬﺎ ﻣِـﻴﻞُ
ﻭﺟِـﻠْـﺪُﻫﺎ ﻣِـﻦْ ﺃُﻃـﻮﻡٍ ﻻ ﻳُـﺆَﻳِّﺴُﻪُ * ﻃَـﻠْﺢٌ ﺑـﻀﺎﺣِﻴَﺔِ ﺍﻟـﻤَﺘْﻨَﻴْﻦِ ﻣَﻬْﺰﻭﻝُ
ﺣَـﺮْﻑٌ ﺃﺧـﻮﻫﺎ ﺃﺑـﻮﻫﺎ ﻣِﻦ ﻣُﻬَﺠَّﻨَﺔٍ * ﻭﻋَـﻤُّـﻬﺎ ﺧـﺎﻟُﻬﺎ ﻗَـﻮْﺩﺍﺀُ ﺷْـﻤِﻠﻴﻞُ
ﻳَـﻤْﺸﻲ ﺍﻟـﻘُﺮﺍﺩُ ﻋَـﻠﻴْﻬﺎ ﺛُـﻢَّ ﻳُﺰْﻟِﻘُﻪُ * ﻣِـﻨْـﻬﺎ ﻟِـﺒﺎﻥٌ ﻭﺃﻗْـﺮﺍﺏٌ ﺯَﻫـﺎﻟِﻴﻞُ
ﻋَـﻴْﺮﺍﻧَﺔٌ ﻗُﺬِﻓَﺖْ ﺑﺎﻟﻨَّﺤْﺾِ ﻋَﻦْ ﻋُﺮُﺽٍ * ﻣِـﺮْﻓَﻘُﻬﺎ ﻋَـﻦْ ﺑَـﻨﺎﺕِ ﺍﻟﺰُّﻭﺭِ ﻣَﻔْﺘﻮﻝُ
ﻛـﺄﻧَّـﻤﺎ ﻓـﺎﺕَ ﻋَـﻴْﻨَﻴْﻬﺎﻭﻣَـﺬْﺑَﺤَﻬﺎ * ﻣِـﻦْ ﺧَـﻄْﻤِﻬﺎ ﻭﻣِﻦ ﺍﻟَّﻠﺤْﻴَﻴْﻦِ ﺑِﺮْﻃﻴﻞُ
ﺗَـﻤُﺮُّ ﻣِـﺜْﻞَ ﻋَﺴﻴﺐِ ﺍﻟﻨَّﺨْﻞِ ﺫﺍ ﺧُﺼَﻞٍ * ﻓـﻲ ﻏـﺎﺭِﺯٍ ﻟَـﻢْ ﺗُـﺨَﻮِّﻧْﻪُ ﺍﻷﺣﺎﻟﻴﻞُ
ﻗَـﻨْﻮﺍﺀُ ﻓـﻲ ﺣَـﺮَّﺗَﻴْﻬﺎ ﻟِـﻠْﺒَﺼﻴﺮِ ﺑِﻬﺎ * ﻋَـﺘَﻖٌ ﻣُـﺒﻴﻦٌ ﻭﻓـﻲ ﺍﻟﺨَﺪَّﻳْﻦِ ﺗَﺴْﻬﻴﻞُ
ﺗُـﺨْﺪِﻱ ﻋَـﻠَﻰ ﻳَـﺴَﺮﺍﺕٍ ﻭﻫﻲ ﻻﺣِﻘَﺔٌ * ﺫَﻭﺍﺑِــﻞٌ ﻣَـﺴُّﻬُﻦَّ ﺍﻷﺭﺽَ ﺗَـﺤْﻠﻴﻞُ
ﺳُﻤْﺮُ ﺍﻟﻌَﺠﺎﻳﺎﺕِ ﻳَﺘْﺮُﻛْﻦَ ﺍﻟﺤَﺼَﻰ ﺯِﻳﻤﺎً * ﻟـﻢ ﻳَـﻘِﻬِﻦَّ ﺭُﺅﻭﺱَ ﺍﻷُﻛْـﻢِ ﺗَـﻨْﻌﻴﻞُ
ﻛــﺄﻥَّ ﺃَﻭْﺏَ ﺫِﺭﺍﻋَـﻴْﻬﺎ ﺇﺫﺍ ﻋَـﺮِﻗَﺖْ * ﻭﻗــﺪ ﺗَـﻠَـﻔَّﻊَ ﺑـﺎﻟﻜﻮﺭِ ﺍﻟـﻌَﺴﺎﻗﻴﻞُ
ﻳَـﻮْﻣﺎً ﻳَـﻈَﻞُّ ﺑﻪ ﺍﻟﺤِﺮْﺑﺎﺀُ ﻣُﺼْﻄَﺨِﺪﺍً * ﻛـﺄﻥَّ ﺿـﺎﺣِﻴَﻪُ ﺑـﺎﻟﺸَّﻤْﺲِ ﻣَـﻤْﻠﻮﻝُ
ﻭﻗـﺎﻝَ ﻟِـﻠْﻘﻮْﻡِ ﺣـﺎﺩِﻳﻬِﻢْ ﻭﻗﺪْ ﺟَﻌَﻠَﺖْ * ﻭُﺭْﻕَ ﺍﻟﺠَﻨﺎﺩِﺏِ ﻳَﺮْﻛُﻀْﻦَ ﺍﻟﺤَﺼَﻰ ﻗِﻴﻠُﻮﺍ
ﺷَـﺪَّ ﺍﻟـﻨَّﻬﺎﺭِ ﺫِﺭﺍﻋـﺎ ﻋَﻴْﻄَﻞٍ ﻧَﺼِﻒٍ * ﻗـﺎﻣَـﺖْ ﻓَـﺠﺎﻭَﺑَﻬﺎ ﻧُـﻜْﺪٌ ﻣَـﺜﺎﻛِﻴﻞُ
ﻧَـﻮَّﺍﺣَﺔٌ ﺭِﺧْـﻮَﺓُ ﺍﻟـﻀَّﺒْﻌَﻴْﻦِ ﻟَﻴْﺲَ ﻟَﻬﺎ * ﻟَـﻤَّﺎ ﻧَـﻌَﻰ ﺑِـﻜْﺮَﻫﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﻋﻮﻥَ ﻣَﻌْﻘﻮﻝُ
ﺗَـﻔْﺮِﻱ ﺍﻟُّـﻠﺒﺎﻥَ ﺑِـﻜَﻔَّﻴْﻬﺎ ﻭﻣَـﺪْﺭَﻋُﻬﺎ * ﻣُـﺸَـﻘَّﻖٌ ﻋَـﻦْ ﺗَـﺮﺍﻗﻴﻬﺎ ﺭَﻋـﺎﺑﻴﻞُ
ﺗَـﺴْﻌَﻰ ﺍﻟـﻮُﺷﺎﺓُ ﺟَـﻨﺎﺑَﻴْﻬﺎ ﻭﻗَـﻮْﻟُﻬُﻢُ * ﺇﻧَّـﻚ ﻳـﺎ ﺍﺑْـﻦَ ﺃﺑـﻲ ﺳُﻠْﻤَﻰ ﻟَﻤَﻘْﺘﻮﻝُ
ﻭﻗــﺎﻝَ ﻛُـﻞُّ ﺧَـﻠﻴﻞٍ ﻛُـﻨْﺖُ ﺁﻣُـﻠُﻪُ * ﻻ ﺃُﻟْـﻬِﻴَﻨَّﻚَ ﺇﻧِّـﻲ ﻋَـﻨْﻚَ ﻣَـﺸْﻐﻮﻝُ
ﻓَـﻘُـﻠْﺖُ ﺧَـﻠُّﻮﺍ ﺳَـﺒﻴﻠِﻲ ﻻَ ﺃﺑـﺎﻟَﻜُﻢُ * ﻓَـﻜُﻞُّ ﻣـﺎ ﻗَـﺪَّﺭَ ﺍﻟـﺮَّﺣْﻤﻦُ ﻣَﻔْﻌﻮﻝُ
ﻛُـﻞُّ ﺍﺑْـﻦِ ﺃُﻧْﺜَﻰ ﻭﺇﻥْ ﻃﺎﻟَﺖْ ﺳَﻼﻣَﺘُﻪُ * ﻳَـﻮْﻣﺎً ﻋـﻠﻰ ﺁﻟَـﺔٍ ﺣَـﺪْﺑﺎﺀَ ﻣَﺤْﻤﻮﻝُ
ﺃُﻧْـﺒِـﺌْﺖُ ﺃﻥَّ ﺭَﺳُـﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺃَﻭْﻋَـﺪَﻧﻲ * ﻭﺍﻟـﻌَﻔْﻮُ ﻋَـﻨْﺪَ ﺭَﺳُـﻮﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻣَﺄْﻣُﻮﻝُ
ﻭﻗَـﺪْ ﺃَﺗَـﻴْﺖُ ﺭَﺳُـﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻣُـﻌْﺘَﺬِﺭﺍً * ﻭﺍﻟـﻌُﺬْﺭُ ﻋِـﻨْﺪَ ﺭَﺳُـﻮﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻣَﻘْﺒﻮﻝُ
ﻣَـﻬْﻼً ﻫَـﺪﺍﻙَ ﺍﻟـﺬﻱ ﺃَﻋْﻄﺎﻙَ ﻧﺎﻓِﻠَﺔَ * ﺍﻟْـﻘُﺮْﺁﻥِ ﻓـﻴﻬﺎ ﻣَـﻮﺍﻋﻴﻆٌ ﻭﺗَـﻔُﺼﻴﻞُ
ﻻ ﺗَـﺄْﺧُﺬَﻧِّﻲ ﺑِـﺄَﻗْﻮﺍﻝِ ﺍﻟـﻮُﺷﺎﺓ ﻭﻟَـﻢْ * ﺃُﺫْﻧِـﺐْ ﻭﻗَـﺪْ ﻛَـﺜُﺮَﺕْ ﻓِـﻲَّ ﺍﻷﻗﺎﻭﻳﻞُ
ﻟَـﻘَﺪْ ﺃﻗْـﻮﻡُ ﻣَـﻘﺎﻣﺎً ﻟـﻮ ﻳَـﻘﻮﻡُ ﺑِـﻪ * ﺃﺭَﻯ ﻭﺃَﺳْـﻤَﻊُ ﻣـﺎ ﻟـﻢ ﻳَﺴْﻤَﻊِ ﺍﻟﻔﻴﻞُ
ﻟَـﻈَﻞَّ ﻳِـﺮْﻋُﺪُ ﺇﻻَّ ﺃﻥْ ﻳـﻜﻮﻥَ ﻟَﻪُ ﻣِﻦَ * ﺍﻟَّـﺮﺳُـﻮﻝِ ﺑِــﺈِﺫْﻥِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺗَـﻨْـﻮﻳﻞُ
ﺣَـﺘَّﻰ ﻭَﺿَـﻌْﺖُ ﻳَـﻤﻴﻨﻲ ﻻ ﺃُﻧﺎﺯِﻋُﻪُ * ﻓـﻲ ﻛَـﻒِّ ﺫِﻱ ﻧَـﻐَﻤﺎﺕٍ ﻗِﻴﻠُﻪُ ﺍﻟﻘِﻴﻞُ
ﻟَــﺬﺍﻙَ ﺃَﻫْـﻴَﺐُ ﻋِـﻨْﺪﻱ ﺇﺫْ ﺃُﻛَـﻠِّﻤُﻪُ * ﻭﻗـﻴـﻞَ ﺇﻧَّـﻚَ ﻣَـﻨْﺴﻮﺏٌ ﻭﻣَـﺴْﺌُﻮﻝُ
ﻣِـﻦْ ﺧـﺎﺩِﺭٍ ﻣِﻦْ ﻟُﻴﻮﺙِ ﺍﻷُﺳْﺪِ ﻣَﺴْﻜَﻨُﻪُ * ﻣِـﻦْ ﺑَـﻄْﻦِ ﻋَـﺜَّﺮَ ﻏِﻴﻞٌ ﺩﻭﻧَﻪُ ﻏﻴﻞُ
ﻳَـﻐْﺪﻭ ﻓَـﻴُﻠْﺤِﻢُ ﺿِـﺮْﻏﺎﻣَﻴْﻦِ ﻋَﻴْﺸُﻬُﻤﺎ * ﻟَـﺤْﻢٌ ﻣَـﻦَ ﺍﻟـﻘَﻮْﻡِ ﻣَـﻌْﻔﻮﺭٌ ﺧَﺮﺍﺩﻳﻞُ
ﺇِﺫﺍ ﻳُـﺴـﺎﻭِﺭُ ﻗِـﺮْﻧﺎً ﻻ ﻳَـﺤِﻞُّ ﻟَـﻪُ * ﺃﻥْ ﻳَـﺘْﺮُﻙَ ﺍﻟـﻘِﺮْﻥَ ﺇﻻَّ ﻭﻫَﻮَﻣَﻐْﻠُﻮﻝُ
ﻣِـﻨْﻪُ ﺗَـﻈَﻞُّ ﺳَـﺒﺎﻉُ ﺍﻟـﺠَﻮِّﺿﺎﻣِﺰَﺓً * ﻭﻻ ﺗَـﻤَـﺸَّﻰ ﺑَـﻮﺍﺩِﻳـﻪِ ﺍﻷﺭﺍﺟِـﻴﻞُ
ﻭﻻ ﻳَــﺰﺍﻝُ ﺑِـﻮﺍﺩﻳـﻪِ ﺃﺧُـﻮ ﺛِـﻘَﺔٍ * ﻣُـﻄَﺮَّﺡَ ﺍﻟـﺒَﺰِّ ﻭﺍﻟـﺪَّﺭْﺳﺎﻥِ ﻣَﺄْﻛﻮﻝُ
ﺇﻥَّ ﺍﻟـﺮَّﺳُﻮﻝَ ﻟَـﺴَﻴْﻒٌ ﻳُـﺴْﺘَﻀﺎﺀُ ﺑِﻪِ * ﻣُـﻬَﻨَّﺪٌ ﻣِـﻦْ ﺳُـﻴﻮﻑِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻣَـﺴْﻠُﻮﻝُ
ﻓـﻲ ﻓِـﺘْﻴَﺔٍ ﻣِـﻦْ ﻗُـﺮﻳْﺶٍ ﻗﺎﻝَ ﻗﺎﺋِﻠُﻬُﻢْ * ﺑِـﺒَﻄْﻦِ ﻣَـﻜَّﺔَ ﻟَـﻤَّﺎ ﺃﺳْـﻠَﻤُﻮﺍ ﺯُﻭﻟُﻮﺍ
ﺯﺍﻟُـﻮﺍ ﻓـﻤَﺎ ﺯﺍﻝَ ﺃَﻧْﻜﺎﺱٌ ﻭﻻ ﻛُﺸُﻒٌ * ﻋِـﻨْـﺪَ ﺍﻟِّـﻠﻘﺎﺀِ ﻭﻻ ﻣِـﻴﻞٌ ﻣَـﻌﺎﺯﻳﻞُ
ﺷُــﻢُّ ﺍﻟـﻌَﺮﺍﻧِﻴﻦِ ﺃﺑْـﻄﺎﻝٌ ﻟُـﺒﻮﺳُﻬُﻢْ * ﻣِـﻦْ ﻧَـﺴْﺞِ ﺩَﺍﻭُﺩَ ﻓﻲ ﺍﻟﻬَﻴْﺠَﺎ ﺳَﺮﺍﺑﻴﻞُ
ﺑِـﻴﺾٌ ﺳَـﻮَﺍﺑِﻎُ ﻗـﺪ ﺷُﻜَّﺖْ ﻟَﻬَﺎ ﺣَﻠَﻖٌ * ﻛـﺄﻧَّـﻬﺎ ﺣَـﻠَﻖُ ﺍﻟـﻘَﻔْﻌﺎﺀِ ﻣَـﺠْﺪﻭﻝُ
ﻳَﻤْﺸﻮﻥَ ﻣَﺸْﻲَ ﺍﻟﺠِﻤﺎﻝِ ﺍﻟﺰُّﻫْﺮِ ﻳَﻌْﺼِﻤُﻬُﻢْ * ﺿَـﺮْﺏٌ ﺇﺫﺍ ﻋَـﺮَّﺩَ ﺍﻟـﺴُّﻮﺩُ ﺍﻟﺘَّﻨﺎﺑِﻴﻞُ
ﻻ ﻳَـﻔْـﺮَﺣﻮﻥَ ﺇﺫﺍ ﻧَـﺎﻟﺖْ ﺭِﻣـﺎﺣُﻬُﻢُ * ﻗَـﻮْﻣﺎً ﻭﻟَـﻴْﺴﻮﺍ ﻣَـﺠﺎﺯِﻳﻌﺎً ﺇﺫﺍ ﻧِﻴﻠُﻮﺍ
ﻻ ﻳَـﻘَﻊُ ﺍﻟـﻄَّﻌْﻦُ ﺇﻻَّ ﻓـﻲ ﻧُﺤﻮﺭِﻫِﻢُ * ﻭﻣـﺎ ﻟَﻬُﻢْ ﻋَﻦْ ﺣِﻴﺎﺽِ ﺍﻟﻤﻮﺕِ ﺗَﻬْﻠﻴﻞ

Ketika Ka’ab sedang melantunkan syairnya tersebut, Rasulullah memberi isyarat kepada sahabatnya untuk mendengarkan, bahkan
Rasulullah lalu memberikan hadiah berupa sebuah burdah. Cerita tentang Ka’ab bin Zuhair diriwayatkan selengkapnya oleh al-Hakim dalam al mustadrok ala as-shohihain, juga disebutkan dalam al- ishobah karangan Ibnu Hajar al-Asqollani dan usdul ghobah karya Ibnul Atsir.

Dari cerita di atas, dapat kita lihat bahwa bersyair yang berisi pujian
untuk Rasulullah bukan merupakan hal tercela. Rasulullah sendiri senang dengan pujian yang ditujukan padanya dan menyuruh para
sahabat untuk menyimaknya meskipun syair itu disampaikan di dalam masjid. Tidak berhenti di situ, Rasulullah pun memberikan
hadiah untuk sang penggubah syair Ka’ab bin Zuhair.

Tentang syirik yang dituduhkan mereka kepada al-imam al-Bushiri
karena menyifati makhluknya (baca: Rasulullah) dengan sifat Allah dan menisbahkan pekerjaan yang hak Allah. Seperti Rasulullah sebagai makhluk disifati sebagai pemberi hidayah, syafa’at dan
semisalnya, justifikasi syirik tersebut disebabkan kesalahan mereka
dalam memahami bait-bait pujian tidak dengan proporsional.

Mereka menggunakan dalil sebuah hadis, “jangan berlebihan dalam
memujiku seperti orang nashrani memuji Isa putra Maryam”. Hadis ini bukanlah larangan dalam berlebihan memuji nabi, tetapi larangan
untuk menuhankan Rasulullah sebagaimana kaum nashrani menuhankan nabi Isa alaihis salam. Bukankah Allah sendiri telah
menyebut hambanya tersebut dengan sebutan ro’uf dan rohim dalam al-Qur’an, padahal Allah pemilik sifat rohim seperti tersebut dalam
basmalah?

Diantara kesesatan nalar itu adalah menyalahkan saudara seiman
karena membaca syair meskipun bacaan tersebut berisi pujian untuk
nabi Muhammad saw. Pujian kepada Rasulullah dianggap oleh kaum extremist terlalu berlebihan dan fakta di lapangan telah
diclaim ke dalam kekafiran atau syirik karena menyekutukan Allah,
mencampur aduk sifat Allah atau menisbahkan sebuah pekerjaan
yang hanya merupakan pekerjaanNya kepada makhluknya. Al-Imam al-Bushiri, pengarang qasidah yang dikenal dengan nama burdah,
sering menjadi sasaran kritik dalam masalah ini. Mereka bahkan mengatakan bahwa burdah adalah qasidah syirik, tidak lain hanya
nalar yang sesat.

Mereka juga salah dalam mengartikan tawassul sebagai syirik
karena meminta kepada selain Allah. Ini merupakan problem klasik
yang telah diulas, dibantah dan dijawab berulang kali oleh ulama ahlussunnah melalui berbagai tulisan mereka. Trancendent berarti
ada pemahaman diluar akal yang sifatnya ta’abudi, sedangkan pemusyrikan terjadi karena ranah nalar dipaksakan memahami
ranah tauhid yang hanya dimiliki Allah dan Rasulullah saw.

Ahlussunnah menjaga betul keserasian nalar dalam menjangkau perihal yang trancendent, salah satu kitab yang membahasnya
syawahidul haq karangan Yusuf an-Nabhani dan Mafahim yajibu an tushohhah karangan al-Musnid Assayyid al Muhaddits Muhammad al-Maliky al hasny.

Senin, 03 November 2014

MENGENANG PERISTIWA KARBALA 10 MUHARAM.

TRANSKRIF CERAMAH.

KH Said Aqil Siradj - Haul Sayyidina Husein R.

Alhamdulillah wa shalatu wa salamu ‘ala maulana wa syafiina wa
habibina rasulillah, Muhammad saw. Wa man tabai’a sunnatahu
wa jama’ana ila yaumina hadza, ila yaumil ba’tsi wa kafa.
Ashabal Fadhilah Sadatana Ahlal Baitil Mushtafa, Habibabana wa
hamzakumullah, Wa ‘ala ru’usihim Assayiid Hasan Alai al-Idrus.
Hadratsus Syaikh KH. Mahfudzh, KH. Hassan Kriyani, Rekan-
Rekan Pengurus NU, Wawan Arwani, rekan-rekan pengurus PMII,
pimpinan Forum Umat Islam se wilayah III, Bapak Syaihu, Sadati
wa Sayidati ahlil kubur.

Alhamdulillah pada malam hari ini, saya juga merasa berbahagia
bisa menghadiri acara yang sangat mulia dzikra syahadati sebeti
rasulillah saw, sayidina wa imamina Abi Abdillah al-Hussein as.
Mudah-mudahan kita semua medapatkan berkahnya, syafaatnya,
sehingga kita menjadi umat yang selamat bahagia dunia akhirat amin ya rabbal amin.

Soal ada halangan, tempatnya pindah, saya harap kepada seluruh
panitia, jangan marah. Maafkan mereka yang memindahkan tempat acara ini. Maafkan yah, jangan marah, jangan dendam.
Allahummahdihim fainnahum la ya’lamun. Alhamdulillahi al-ladzi ja’ala a’da’na umaqa.

Hadirin yang saya hormati, setelah al-khalifah al-rasyid yang keempat, al-Imam Sayyidina Ali bin Abi Thalib dibantai, dibunuh
pagi Jum’at 17 Ramadhan th. 40 H. oleh seorang yang bernama
Abdurrahman ibn Muljam. Pembunuh Sayyidina Ali ini orangnya qiyamul lail wa shiyamun nahar, hafidhul Qur’an. Orangnya tiap malam tahajud, sampai jidatnya hitam, tiap siang puasa, dan hafal
al-Qur’an.

Mengapa dia membunuh Sayyidina Ali? Karena menurutnya Sayyidina Ali itu kafir? Apa Kafir? Keluar dari Islam.
Kenapa Ali kafir? Karena menurutnya, Ali menerima hasil rapat
manusia. Hukum atau keputusan rapat manusia. Padahal, la hukma ilallah (tidak ada hukum selain hukum Allah), wa man lam
yahkum bima anzalallah faulaika humul kafirun (maka barang
siapa menggunakan selain hukum Allah, maka kafir). Sayyidina Ali  tidak menggunakan hukum Allah, tetapi menggunakan hukum hasil
kesepakatan rapat di Dummatul Jandal. Kalau kafir, maka harus dibunuh.

Eh anak kemarin sore, mentang-mentang jidatnya hitam dan jenggotnya panjang, mengkafirkan man aslama min al-
shibyan, shihru rasulillah, fatihu khaibar, min al-sabiqin al- mubasyirun bi al-jannah, bab al-ilm.

Anak kemarin sore berani mengkafirkan remaja yang pertama kali
masuk Islam, yang pertama kali shalat jamaah di masjidil haram.
Waktu itu ditertawakan oleh Abu Jahal dan teman-temannya.
Waktu itu yang pertama kali shalat jama’ah di masjidil haram tiga
orang. Saat itu imamnya Rasulillah, makmumnya sayyidah khadijah al-kubra dan Sayyidina Ali. Tiga orang itulah yang
pertama kali shalat terang-terangan di dunia ini. Dikafirkan oleh anak kemarin sore, maklum pernah ikut pesantren kilat dua minggu.

Ali adalah shihru rasulillah, menantu rasul. Ia juga dijuluki bab al-Ilmu, sahabat yang intelek dan cerdas. Ali juga adalah min al-
sabiqin al-awwalin al-mubasyirun bi al-jannah, salah satu orang
yang sudah dikasih tahu pasti masuk surga. Di samping sahabat
Abu Bakar, Umar, Utsman, Thaha, Zubair, Abdullah bin Auf, Abu
Ubaidah, Amr bin Jarrah, sampai orang sepuluh yang dikasih tahu pasti masuk surga.

Sayyidina Ali juga dipercaya sebagai Fatihu Khaibar, yang memimpin perang mengalahkan benteng terakhirnya Yahudi di
Khaibar. Dan Imam Ali juga selalu hadir dan ikut bersama rasul dalam peperangan perjuangan jihad fi sabililillah. Yang begini
dikafirkan oleh anak kemarin sore, bernama Abdurrahman ibn Muljam.

Ini, penyakit seperti ini sudah mulai masuk ke Cirebon. ”Alah baca
al-Qur’an juga plentang-plentong. Ngerti nggak itu asbab al- nuzul? Ngerti nggak itu tafsir? Negerti nggak itu mushtalah hadits?
Shahih, hasan dan dha’if? Ngerti nggak itu qira’ah sab’ah?
Apalagi qira’ah sab’ah, qira’ah yang biasa aja nggak bener kok!
Ngerti nggak ushul fiqh? Ngerti nggak itu ilmu kalam? Tarikhu Tamaddun? Tarikhu Hadharah wa Tsaqafah? Ngerti nggak itu?
Tahu-tahu mudah sekali mengkafirkan dan menyalah-nyalahkan orang. Alah, Allahummahdi qaumi fainnahum la ya’lamun, Alhamdulillah al-ladzi ja’ala a’da’na umaqa, juhala. Alah. ”

Setelah Sayyidina Ali terbunuh di Kuffah, maka gubernur Syam, Muawiyah ibn Abi Sufyan ibn Harb ibn Umayyah ibn Abdi Syams
ibn Hasyim merasa plong, tidak ada saingan. Tidak ada yang diperhitungkan lagi. Maka ia mendeklarasikan diri sebagai
penguasa tunggal. Lalu setelah itu buru-buru ia mengangkat anaknya yang bernama Yazid, diangkat menjadi putra mahkota,
yang akan mewariskan tahta, artinya kalau ia mati, langsung digantikan anaknya, yang bernama Yazid. Yazid sendiri adalah
anak seorang ibu yang bernama Maesun, orang Badui pedalaman,
yang tidak suka tinggal di istana, dan suka hidup di padang pasir dan suka tidur di kemah. Yazid sendiri tidak pernah belajar ngaji
dan belajar agama, ia hanya belajar berburu, naik kuda, memanah dan memainkan senjata.
Setelah Muawiyah meninggal, Yazid langsung menjadi penggantinya, penguasa umat Islam. Waktu itu diutus beberapa
utusan berangkat dari Damaskus ke seluruh provinsi untuk mengambil sumpah setia dari tokoh-tokoh yang ada kepada
Yazid. Utusan-utasan itu berangkat ke Mesir, ke Basrah, ke Kuffah dan juga diantaranya ke Madinah. Sampai di Madinah,
para sahabat besar, seperti Abdullah ibn Umar dan lain-lainnya mau berbai’at karena dipaksa dan dibawah intimidasi. Meski yang
lain bai’at, Imamuna Sayidina Husein meminta waktu untuk berfikir. ”Nanti saya fikir dulu malam ini”,katanya.

Lalu Sayyidina Husein pulang ke rumah. Di dalam kegelapan malam, beliau beserta seluruh keluarganya meninggalkan Madinah
al-Munawarah berjalan kaki menuju Makkah al-Mukarramah.

Masuk kota Makkah, ketika orang datang haji, orang-orang datang
ke Minna, beliau beserta keluarganya keluar dari Makkah. Beliau saat itu sudah sering haji.

Ketika Sayyidina Husein keluar dari Makkah, di tengah jalan ia dinasihati oleh seorang penasihat, bahwa kalau mau melakukan
perjuangan jangan pergi ke Kuffah. Karena orang Irak mudah berhianat. Sebaiknya kamu ke Yaman, karena orang Yaman jujur
dan mudah tidak hianat.

Ditengah jalan lagi, Sayyidina Husein berjumpa seorang penyair bernama Farazdaq. Farazdaq bertanya mau kemana wahai yang
mulia? Beliau menjawab, saya mau ke Kuffah, saya menerima lebih dari seratus surat, agar saya hijrah dan membangun peradaban di sana.

Farazdaq berkata; ”Jangan percaya orang
Kuffah, mulutnya bersama kita tetapi hatinya beserta Muawiyah”.
Sayyidina Husein menjawab, saya akan tetap menuju Kuffah.
Farrazdaq berkata lagi: ”Kalau begitu, perempuan dan anak-anak jangan kamu bawa”. Tetapi mereka tetap diajak bersama.
Rupanya Allah sudah menentukan mati syahidnya Husein,
sehingga Sayidina Husein tidak menerima masukan orang lain.
Akhirnya beliau tetap berjalan bersama keluarga dan pengikutnya.

Ada bukunya berjudul Ashabu Husein, sedikit sekali, yang bersenjata hanya berjumlah 54 orang.
Setelah Sayyidina Husein meninggalkan Farrazdaq, lalu ada orang yang bertanya.

”Wahai Farrazdaq, tadi kamu berbicara sama
siapa, kok kelihatanya asyik banget”, tanya orang tersebut.
Farrazdaqpun menjawab dengan lantunan bait-bait syair, yang artinya:

"Tadi yang saya ajak ngomong itu, kamu ndak tahu? Kamu ndak tahu?
Dia sudah dikenal seluruh umat manusia
Baik penduduk tanah halal dan tanah haram
Ka’bah pun sudah kenal dia Siapa dia itu?
Dia adalah anak orang yang paling mulia (Sayyidina Ali)
Dia adalah orang yang bertakwa, bersih dan suci
Kalau kamu ndak tahu? Dia putra Fatimah
Ketika orang Quraish melihatnya
Orang Quraish akan mengatakan, bahwa orang inilah ujung orang yang mendapat kemuliaan
Dengan kakeknyalah para Rasul dan Nabi di akhiri Karena kakeknya Nabi yang terakhir.

Sayidina Husein beserta rombongan terus melanjutkan perjalanan.
Dan sesampainya di padang Karbala dihadanglah oleh 400 pasukan penunggang kuda yang diperintah oleh Abdullah ibn
Ziyad, yang dipimpin Umar ibn Sa’ad ibn Abd al-Waqas.

Terjadi peperangan yang tidak seimbang, termasuk hampir tentara
Husein yang hanya berjumlah 54 orang. Semua yang ikut Sayidina
Husein mati syahid, kecuali Imam Ali Zainal Abidin, tidak meninggal karena tidak keluar kemah karena sedang sakit
demam. Dan juga istri Sayidina Husein, Fatimah, adiknya juga
Sayidah Zainab dan kakaknya lagi. Kira-kira ada 4 orang yang selamat.

Sebenarnya mudah sekali untuk membunuh dan membantai Sayidina Husein, gampang. Tetapi tiap orang yang mendekat dan
hendak membunuh beliau, maka akan berusaha menjauh, dan
mengatakan kalau bisa jangan saya yang membunuh, tetapi yang lain saja.

Kalau datang waktu adzan, waktu shalat, semuanya berhenti, lalu tidak ada yang berani menjadi Imam Shalat. Semua
sepakat Sayidina Husein yang mengimami shalat. Jadi yang memusuhi juga makmum ke Sayidina Husein. Habis shalat lalu
bertempur lagi.

Sampai akhirnya seorang yang menjadi jausyan (tentara, algojo),
dengan berani menarik Sayidina Husein dari kudanya. Begitu jatuh, dinaikkin, diinjak, ditebas lehernya, dipisahkan kepala dan
badannya. Badanya diinjak-injak oleh kuda sampai rata dan menyatu dengan tanah Karbala. Tinggallah kepalanya. Kepalanya
ditancapkan di tombak, dibawa ke Kuffah, diarak keliling kota
Kuffah, bersama 4 keluarganya tadi. Dari Kuffah lalu dibawa ke
Syiria, Damaskus. Di kereta itu isinya, istrinya, adiknya, anaknya, dan saudaranya. Luar biasa sekali (kejamnya red.).

Sampai di Damaskus, kepala itu dipasang di depan istana Yazid.
Dan setiap orang yang lewat diperintahkan oleh tentara untuk memaki-maki dan menjelek-jelekannya. Setelah kepala itu cukup
lama terpajang di depan istana Yazid, Sayidah Zaynab memberanikan diri agar dizinkan membawa kepala itu pulang ke
Madinah. Yazid mengizinkan. Tetapi di tengah jalan dicegat oleh tentara Yazid agar kepala tersebut tidak sampai ke Madinah.
Karena takut dapat membangkitkan dan membakar emosi penduduk Madinah. Makanya kemudian kepala tersebut
dibelokkan ke Mesir. Makanya makam Sayidina Husein ada di Kairo di Mesir. Ali Zainal Abidin, putra beliau, dipulangkan ke Madinah.

Saudara-saudara dan para hadirin sekalian, kenapa saya cerita demikian? Ini karena ideologi apa pun, agama apa pun, keyakinan
apa pun tidak bisa besar tanpa ada pengorbanan, tanpa ada
syahadah (kesyahidan). Ini terlepas dari agama apa saja. Kristen
bisa maju karena banyak pengirbanan. Budha dan Hindu masih tetap ada karena banyak pengorbanan. Demikian juga Islam,
berkembang sampai sekarang karena pengorbanan syuhada,
banyak nyawa yang mengalir, demi mempertahankan agama Islam.

Pertama kali yang syahid dalam agama Islam adalah perempuan,
namanya Sumayah. Istrinya Yasir, ibunya Amar bin Yasir, yang dibunuh oleh Abu Jahal. Lalu seminggu kemudian, suaminya
dibunuh, Yasir. Seminggu kemudian, Amar akan dibunuh. Tetapi
selamat, karena dalam keadaan terpaksa ia pura-pura murtad.

Begitu pura-pura murtad, langsung menghadap Rasulullah saw,
dan menyatakan bahwa dalam keadaan terpaksa, diancam dibunuh, ia pura-pura murtad, pura-pura mecaci maki Rasul.
Rasul menanyakan, bagaimana isi hati Amar? Amar menjawab,
hatinya tetap beriman. Rasul pun memaafkannya, karena memang dalam keadaan terpaksa.

Jadi yang pertama syahid dalam Islam
itu perempuan. Kalau laki-laki itu biasanya omongnya saja yang besar. Kalau perempuan itu buktinya ada.
Selanjutnya banyak lagi darah pengorbanan para syuhada tercurah demi mempertahankan Islam. Syuhada Badar, syuhada
Uhud. Sayidina Hamzah ibn Abbas, Sayidina Hmzah ibn Abdi Muthalib, Mus’ab ibn Umay, Sayidina Khalid ibn Walid, dan yang
lainnya.

Darah syuhada mengalir demi melanggengkan ajaran Islam.

Syahadah Sayidina Husein tudak akan percuma, tidak sia-sia.
Islam bisa sampai di Indonesia itu antara lain, disebabkan oleh syahadah Sayidina Husein. Bagitu Sayidina Husein, sebagai ahlu
bait yang dibenci penguasa. Sayidina Husein memiliki putra, Ali Zainal Abidin. Zainal Abidin punya putra Muhammad al-Baqir.
Muhammad al-Baqir punya putra Ja’far al-Shadiq. Ja’far al- Shadiq punya putra Musa al-Kadzim, Ismail. Musa al-Kadzim
punya putra Ali al-Uraifi, yang kuburannya sekarang kuburannya di Madinah digusur dan dijadikan jalan tol. Imam al-’Uraifi punya
putra namanya, ’Isha. ’Isha punya putra Ahmad. Ahmad hijrah dari
Madinah ke Yaman. Dari Yamanlah Ahmad al-Muhajir punya keturunan sampai ke Kamboja, sampai ke Cirebon, Gresik. Para
wali songo di pulau Jawa ini adalah kuturunan dari al-’Uraifi.

Seandainya ahlu bait itu hidupnya enak, tidak dikejar-kejar mungkin Islam akan lambat datang ke Indonesia.

Syahadah Sayidina Husein tidak sia-sia. Dengan syahadah
Sayidina Husein mempercepat Islam tersebar ke Timur. Pada
malam hari ini kita mengenang kembali, menghormati pengorbanan cucu Rasul saw.

Kita ini bukan saudaranya, bukan
cucunya, bukan besannya, tetapi menghormati saja kok males banget. Malah ada yang tidak percaya, ”haul itu apa?”, ”kirim doa
itu apa?” ”ndak akan nyampe”, katanya.
Coba kalau kita balik doanya, doakan bahwa: ”mudah-mudahan Bapak sampean masuk
neraka”. Nah kalau didoakan seperti ini maka orang itu marah juga. Berarti percaya bahwa doa itu sampai dong.

Islam yang datang ke Jawa ini adalah Islam ahli sunnah wal jama’ah, Islam yang selalu menjunjung tinggi tawasuth, berfikir
moderat.  Tidak ekstrem. Islam yang dibawah para habaib, sayyid, dan saddah, yang berdakwah dengan cara-cara damai. Dulu tidak ada para habaib yang galak. Mereka berdakwah dengan cara dan
sarana-sarana kebudayaan yang ramah. Para wali dan Sunan itu kan para habaib, tidak ada yang galak. Tidak tahu kalau sekarang,
dan akhir-akhir ini, apa ada habib yang galak. Yang jelas dulu tidak ada para habaib kalau berdakwah pakai cara-cara
mengobrak-abrik rumah orang. Saya tidak tahu, kalau sekarang,
mungkin ada habib yang berdakwah secara keras?
Dakwah para dakwah habib itu dengan cara-cara ramah, dan
memasukkan bahasa dan budaya ke sini. Banyak kata dalam bahasa Arab masuk ke bahasa Indonesia.

Dulu para ulama memoles sedemikian rupa, melalui cara-cara budaya, bahasa,
yang damai. Tidak ada paksaan dalam agama. Dan itu tidak sesuai dengan ajaran Islam
Ada seorang namanya al-Hasyim dari Bani Salim al-Khazraj. Ia musyrik, punya dua anak beragama Kristen. Sewaktu Nabi masuk
Madinah, ia masuk Islam. Ia pun memaksa dua anaknya agar masuk Islam. Lalu turunlah ayat al-Qur’an yang berbunyi: ”La
ikraha fi din” (tidak ada paksaan dalam agama). Jadi asbab al- nuzul turunya ayat La ikraha fi -din adalah karena kondisi
berikut.

Oleh karena itu, mari kita yang ahli sunnah, dan para ahlu bait, dan para pecinta keluarga Nabi, kita tunjukkan bahwa kita
berakhlak. Kita jauhi segala tindak kekerasan, kita jauhi cara-cara dakwah syiddah dan ikrah.
Rasulullah ketika Fathu Makkah, begitu masuk Makkah, lalu menyebarkan jargon bahwa hari ini adalah bukan hari pembalasan
tetapi hari kembali membangun kasih sayang (yaumul marhamah). Dengan demikian sekonyong-konyong para musuh
Quraisy Makkah datang ke Muhammad saw. Maka kemudian turunlah ayat yang menyeru agar Nabi pun memaafkan mereka
dan meminta ampun mereka kepada Allah
Islam bukan hanya agama aqidah dan syariah. Tetapi Islam juga adalah agama Tamadun dan Tsaqafah, Islam adalah agama peradaban dan pengetahuan.

Globalisasi yang di bawah islam dari
timur ke Barat, adalah kemajuan peradaban dan kemajuan ilmu pengetahuan. Bukan globalisasi fitnah dan fawahisy, yang seperti
kita laksanakan sekarang ini
Oleh karena itu, agama tidak akan maju, bila tidak dibarengi dengan peradaban. Agama tidak akan maju bila tidak dibarengi
dan diwarnai dengan budaya. Karena agama itu suci dari langit, akan langgeng bila disosialisasikan, bila dibumikan secara
manusiawi, dan bukan melulu didoktrinkan. Aqidah, Iman dan Shalat serta Puasa memang dari ajaran langit. Tetapi tidak akan
langgeng bila tidak dibarengi dengan budaya.

Kita harus mempertahankan nilai ketuhanan dengan aktifitas manusia di
bumi. Menjadikan peradaban sebuah doktrin.

Dulu kan ada tradisi sesajen, para ulama dan kyai tidak langsung menyatakannya sebagai syirik. Tetapi menyatakanya bahwa kalau
kamu punya uang yah sedekahnya atau sesajennya jangan cuma di empat pojok.

Tetapi ayo menyembelih kambing saja. Setelah kambing disembelih, lalu orang deramwan itu tanya mau taruh
dipojok mana daging kambing itu? Maka kyai akan menjawab jangan ditaruh tetapi mari undang para tetangga untuk makan-
makan dan doa serta tahlil bersama. Nah dakwah semacam ini kan ramah. Tidak langsung mengatakan ini itu syirik dan bid’ah,
nanti umat lari.

Jangan sekali-kali menuding ini itu syirik atau bid’ah. Mengerti tidak apa itu bid’ah itu?.

Apa yang tidak dilakukan dan diajarkan
Nabi itu bid’ah Kalau tidak ngerti, diantara contoh bid’ah adalah tulisan Arab yang ada titiknya itu bid’ah. Nah titik itu ditemukan
oleh Abu Aswad al-Dualy pada th. 65 H. Sudah ada titiknya juga masih banyak yang belum bisa baca al-Qur’an, maka, Imam Khalil
ibn Ahmad al-Farahidi, gurunya Imam Syibawaih, bikin syakal (harakah), fathah, kasrah dan dhammah.

Sudah ada titik dan syakal, nyatanya masih banyak orang yang tidak bisa baca al-Qur’an, maka Imam Abu Ubay Qasim ibn Salam
w. 242 H menyusun ilmu Tajwid, agar benar dalam membaca al- Qur’an. Mau bener baca al-Qur’an pakai ilmu Tajwid. Ilmu Tajwid
itu bid’ah, karena memang semua ilmu pengetahuan itu bid’ah.

Karena memang Rasul tidak mengajarkannya.
Contoh lagi, ada seorang gubernur dari Asia Tengah, Amir al-Mahdi kirim surat pada Muhammad ibn Idris ibn Syafi’i (Imam
Syafi’i). Surat itu isinya tanya, saya kalau baca al-Qur’an dan Hadits, itu isinya nampak bertentangan? Lalu untuk menjawab ini
Imam Syafi’i menyusun kitab Ar-Risalah, yang berisi kaidah- kaidah Ushul Fiqh. Serta ada Ushul Fiqh baru kemudian ada Ilmu
Fiqh. Lalu kemudian ada penjelasan dalam Ilmu Fiqh mengenai rukun shalat. Kalau mau shalatnya benar yah mengikuti Ilmu Fiqh,
yang susunannya ulama.Kalau Cuma lihat al-Qur’an dan Hadits tidak akan ketemu
Contoh satu lagi, biar jelas saja. 

Contohnya ada orang pergi haji,
masuk hotel ambil kamar yang bagus. Begitu tanggal 8 mau ke Arafah, ia mau cari tahu berapa jarak hotel ke Arafah, ke mana
arahnya, naiknya apa? Dia lalu buka al-Qur’an dan Hadits, yah tidak akan ketemu. Nah sebaiknya bagaimana, yah ikut saja
rombongan yang ke Arafah. Nah ikut saja itu kan bahasa Indonesia, bahasa Arabnya yah taqlid saja.

Jadi kita tidak bisa melaksanakan ibadah dengan baik tanpa ilmu Fiqh, yang bukan bikinan Rasul, bukan sahabat Abu Bakar,
Utsman dan Ali. Sahabat Husein juga tidak bikin Ilmu Fiqh.

Nah bila ada orang shalatnya bagus sekali, lalu kita tanya, Bapak kan
shalatnya bagus sekali, dari mana belajarnya Pak? Lalu bila ia jawab, ia belajar dari al-Qur’an dan Hadits, itu bohong. Kalau mau
jujur, ia sebenarnya belajar dari ayah atau gurunya, yang mentok-
mentoknya merujuk pada kitab Safinah. Atau kalau Safinah terlalu
besar, yah mentok merujuk pada Fashalatan, atau minimal buku Petunjuk Shalat Lengkap.

Yang namanya ibadah itu harus dengan ilmu. Sedangkan ilmu itu
bukan karangan Rasul dan para sahabatnya. Ilmu Mushtalah Hadits itu disusun oleh Imam Syihabuddin Arrahumuruzi atas
perintah Umar ibn Abd al-Aziz, setelah mengingat banyakanyaBhadits dha’if dan palsu. Jadi Islam itu agama peradaban, akhlak
dan pengetahuan. Bukan hanya doktrin yang sering ditampilkan sangar itu.

Karena itu mari mulai malam hari ini, tingkatkan ahlak kita,
tingkatkan ilmu pengetahuan kita. Pahamilah Islan dengan baik dan benar. Kalau mau memahami al-Qur’an tidak bisa langsung,
polosan. Harus mengerti asbab al-nuzul, ilmu tafsir, ilmu qira’ah, ilmu bahasa Arab, nahwu sharafnya. Kalau ingin memahami ilmu
hadits maka harus memahami ilmu mushtalah al-hadits.

Pada kesempatan ini, mari kita rayakan jasa para habaib dalam menyebarkan agama Islam. Seandainya tidak ada habaib dan ahlu
bait, mungkin kita akan jauh bisa meneladani akhlak Rasul saw.

Imam Syafii pernah menyatakan, bahwa kalau ada orang yang mencintai Ahlu Bait, lalu dianggap Syiah, maka OK tidak apa-apa,
silahkan saya dianggap Syiah.

Sesungguhnya, tragedi pembantaian di Karbala yang demikian bukan hanya tragedinya Syiah, tetapi tragedi kemanusiaan.
Seharusnya ini bukan hanya milik Syiah tetapi yang lain juga.

Tulisan ini adalah rekaman ceramah KH. Said Aqiel Siradj [Ketua
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)] pada acara peringatan
10 Muharam di Keraton Kasepuhan Cirebon, 07/01/2009, yang
dibayang-bayangi tindak intoleransi dan diskriminasi.

sumber dari video youtube

http://m.youtube.com/watch?v=RB3GDuzb3iw

TASAWUF

pengantar.

Menurut KH. Said Aqil Siraj, Secara bahasa,
tasawuf paling tidak dinisbatkan kepada lima akar kata,

Tasawuf bukan akhlaq. Memang seorang sufi harus punya akhlaq al-karimah. Tetapi yang punya akhlaq al-karimah
belum tentu sufi. Sebab akhlaq masih melihat suluk, dhohir, perilaku. Tasawuf juga bukan ilmu hikmah / ilmu perdukunan.

Tasawuf juga tidak ada kaitannya dengan ﻛَﺜْﺮَﺓُ ﺍﻟْﻌِﺒَﺎﺩَﺓِ ﻭَ ﺍﻟﻨَّﻮَﺍﻓِﻞِ
( memperbanyak ibadah ). Tidak ada kaitan dengan jumlah bilangan (kuantitas) ibadah.

Orang pertama yang mendapat gelar sufi adalah Jabir bin Hayyan ( w. 161 H) penemu teori aljabar (matematika) dia
adalam murid dari Imam Ja’far as-Shodiq. Dia seorang jenius,
tiap malam tidak kurang 100 rokaat tahajud, setiap akan
observasi selalu minta izin gurunya. Beliau hidup di Kufah.

Yang kedua adalah Abdul karim bin Usman biasa dipanggil Abda’ (w 165). Dia seorang vegetarian, tidak pernah
makan yang mengandung ruh. Dia seorang zuhud, cinta pada
semua orang, tidak memiliki kebencian kepada siapapun. Yang
ketiga yang mendapat gelar sufi adalah Abu Hasyim al-Kuufi, dia
pernah menjadi guru dari seorang mujtahid yaitu Sofyan ats- Tsauri.

Asal kata tasawuf,

Ada pendapat yang menyebutkan, bahwa kata tasawuf (
ﺗَﺼَﻮَّﻑَ ) berasal dari ﺻَﻔَﺎﺀٌ artinya bening, bersih, jernih . Hal
ini seperti yang disebutkan oleh Imam Abu Bakar al-Kalabadzi
dalam kitabnya al-Ta’rif bi Mazhab Ahl al-Tasawuf. Dikatakan demikian, karena tasawuf mempunyai tujuan “membersihkan manusia dari kotoran sifat kemanusiaan” ﻟِﺼِﻔَﺎﺀِ ﺍﻟْﺎِﻧْﺴَﺎﻥِ ﻋَﻦْ
ﻛَﺬُﺭَﺍﺕِ ﺍﻟْﺒَﺸَﺮِﻳَّﺎﺕِ . Secara bahasa hal ini tidak benar, meski
secara etimologi benar. Karena orang yang sudah bersih – jika berasal dari kalimat ﺻَﻔَﺎﺀٌ - adalah ﺻَﻔَﺎﺉِ bukan ﺻُﻮْﻓِﻰ artinya orang yang bersih.

Kedua , tasawuf merupakan kelanjutan dari ahlu ash-shuffah, yaitu para sahabat muhajirin yang hijrah ke Madinah, di Madinah mereka tidak mempunyai kerabat dan sahabat akhirnya mereka memilih bertempat tinggal
di serambi masjid Nabawi, disana mereka memfokuskan diri untuk beribadah kepada Allah, diantara para sahabat tersebut adalah Abu Dzar Al-Ghifari, seperti
halnya ash-shafa, secara substansi memang benar, namun dari sisi bahasa kata ahlu ash-shuffah tidak cocok,
karena jika kata sufi dinisbatkan kepada kata ahlu ash-shuffah mestinya adalah shuffiyun, dengan tasydid pada huruf shad , bukan sufi.

Ketiga, menurut Kang Said diambil dari nama
seorang penjaga Ka`bah pada jaman Jahiliyah yang bernama Shuufah, nama asli Shuufah ini adalah Al-Ghauts Bin Mur, diceritakan pada musim panas yang luar biasa,
ibunya Al-Ghauts Bin Mur ini melewati Ka`bah dan mendapati anaknya pingsan karena tidak kuat menahan
panas. Ibunya lalu berkata: shara ibni shuufah (anakku jadi seperti kain lap).

Dari sisi lughawi, ada kesesuaian jika kata sufi
dinisbatkan kepada kata shufah , namun dari sisi maknawi tentu saja akan terjadi persoalan, karena umat Islam tentu tidak akan menerima jika orang atau tokoh sufi seperti misalnya Syekh Abdul Qadir Jailani, Syekh
Abu Hasan Asyadzili, Syekh Abdul Qadir Jailani, Imam
Ghazali dan para tokoh sufi lainnya dinisbatkan kepada
tokoh atau orang yang hidup pada jaman jahiliyah.

Penisbatan kata sufi yang keempat, sufi berasal dari kata sufia (menggunakan huruf sin ) berasal dari bahasa Yunani yang artinya hikmah. Kata sufia ini
secara maknawi memang sesuai, karena tasawuf memiliki hikmah, namun dari sisi lughawi kata sufia tidak cocok, karena kata sufia menggunakan huruf ‘S’
atau sin, bukan shad, selain itu, kata sufia ini ahistoris, karena penerjemahan buku-buku Yunani kuno dilakukan
pada masa khalifah Al-Mamun salah seorang khalifah dari bani Abasiyah, sementara tasawuf sudah ada
sebelum kekhalifahan Abasiyah.

KH. Said Aqil Siraj sendiri lebih cenderung
kepada asal kata yang kelima, yaitu shuf yang berarti bulu domba, sebab pada zaman dahulu orang-orang yang ahli beribadah, orang yang zuhud, mengasingkan diri di gua atau padang pasir dan orang yang banyak riyadlah,
pakaian mereka menggunakan bulu domba, seperti sahabat atau muridnya Nabi Isa yang memakai baju
putih disebut hawariyyin, maka orang sufi disebut sufiyun, seperti fiil madi yang ditambahi dua huruf menjadi khumasi , bunyinya tashawwafa , artinya memakai
bulu domba , taqammasha artinya memakai gamis, tasarwala, artinya memakai celana. [1]

Para ahli pun berbeda pendapat dalam
merumuskan pengertian tasawuf secara terminologi.

Mahrus eL-Mawa mengutip pernyataan Annemarie Schimmel dalam buku Dimensi Mistik dalam Islam dimana dikatakan bahwa istilah tasawuf selaras dengan sufisme, nama lain dari mistik Islam. Secara universal,
menurut Abu al-Wafa’ al-Ganimi al-Taftazani dalam Madkhal ila al-Tasawuuf al-Islam , tasawuf adalah falsafah
hidup dan metode tertentu dalam suluk yang dilakukan manusia untuk merealisasikan kesempurnaan akhlak,
pemahaman tentang hakekatnya, dan kebahagiaan ruhaninya.

Menurut Syekh Ibn Ajiba (1809), sufisme
adalah pengetahuan yang dipelajari seseorang agar dapat berlaku sesuai kehendak Allah melalui penjernihan hati dan membuatnya riang terhadap perbuatan-perbuatan yang baik.

Ma’ruf Al-Karkhi (w. 200 H) mengatakan,
tasawuf menekankan hal-hal yang hakiki dan
mengabaikan segala apa yang ada pada makhluk.

Barangsiapa yang belum bersungguh-sungguh dengan kefakiran, berarti belum bersungguh-sungguh dalam
bertasawuf. [2]

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
tasawuf adalah proses aktualisasi diri untuk
mendekatkan diri kepada Allah Swt.

TAREKAT.

Menurut Harun Nasution, tarekat berasal dari
kata thariqah yang artinya jalan yang harus ditempuh oleh seorang calon sufi agar ia berada sedekat mungkin dengan Allah. Thariqah kemudian mengandung arti organisasi (tarekat). Setiap thariqah mempunyai syaikh,
upacara ritual, dan dzikir tersendiri. [3]

Secara lebih lengkap Zamakhsyari Dhofier
menjelaskan bahwa istilah ’tarekat’ berasal dari kata Arab ’thariqah’. Sebagai suatu istilah generik, perkataan tarekat berarti ’jalan’ atau lebih lengkap lagi ’jalan menuju surga’ di mana waktu melakukan amalan-amalan tarekat tersebut si pelaku berusaha mengangkat dirinya melampaui batas-batas kediriannya sebagai manusia dan mendekatkan dirinya ke sisi Allah SWT. [4]

Melengkapi pendapat di atas, Samsul Munir
Amin, dalam Ilmu Tasawuf mengatakan tarekat ( thariqah ) mempunyai beberapa arti, antara lain jalan lurus (Islam yang benar, berbeda dari kekufuran dan syirik), tradisi
sufi atau jalan spiritual (tasawuf), dan persaudaraan sufi.
Pada arti ketiga, tarekat berarti organisasi sufi yang memiliki anggota dan peraturan yang harus ditaati, serta
berpusat pada hadirnya seorang mursyid. [5]

Dalam tradisi keilmuan Islam, istilah tarekat
sama sekali tidak dapat dipisahkan dari apa yang disebut tasawuf. Tentu saja tidak demikian sebaliknya, karena
tasawuf bisa saja terpisah tanpa ada hubungan langsung dengan tarekat. [6]

Pada awal mulanya, tarekat belum ada di
dalam agama Islam. Akan tetapi untuk memasuki dunia
tasawuf, diperlukan satu jalan untuk dapat mencapai tujuan utama yang ingin dicapai oleh seseorang. Dari situ
timbullah satu cara untuk mendaki satu maqam ke maqam lainnya yang disebut tarekat. [7]

Tasawuf secara umum merupakan usaha
mendekatkan diri kepada Allah dengan sedekat mungkin, melalui penyesuaian rohani dan memperbanyak ibadah.
Usaha ini biasanya dilakukan di bawah bimbingan seorang syaikh. Ajaran-ajaran tasawuf ini merupakan
hakikat dari tarekat. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tasawuf ialah usaha mendekatkan diri kepada
Allah, sedangkan tarekat ialah jalan yang ditempuh untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Gambaran ini menunjukkan bahwa tarekat yang telah berkembang dengan berbagai variasi tertentu, sesuai dengan spesifikasi yang diberikan guru kepada muridnya. [8]

Sejarah perkembangan tarekat dapat disimpulkan dalam tiga fase. Fase pertama adalah tahap khanaqah.
Khanaqah dalam istilah sufi/tarekat adalah sebuah tempat atau pusat pertemuan. Seorang Syekh hidup
dengan muridnya dalam ikatan peraturan yang tidak terlalu ketat. Syekh menjadi mursyid atau guru. Amalan- amalan/zikir dan metode yang mereka lakukan tidak semuanya bersumber dari ajaran guru.

Mereka melakukan kontemplasi kadang-kadang secara individu,
kadang-kadang secara bersam-sama. Hal ini terjadi sekitar abad X Masehi.

Kedua adalah fase tarekat. Pada fase ini ajaran-ajaran, metode, peraturan-peraturan sudah mulai terbentuk. Semua amalan yang dilakukan berpusat pada ajaran guru.

Guru adalah sosok kharismatik yang wajib
dipatuhi. Guru memiliki silsilah tarekatnya sampai kepada Rasulullah SAW. Dalam tahap ini para sufi mencapai kedekatannya kepada Tuhan dengan istilah- istilah tertentu seperti ma’rifat, mahabbah, dan sebagainya. Fase ini berlangsung sekitar abad XIII Masehi.

Tahap ketiga adalah tha’ifiah yang terjadi sekitar abad XV Masehi. Pada masa ini terjadi transisi ajaran dan peraturan kepada pengikut. Pada tahap ini, tarekat memiliki arti lain yaitu organisasi sufi yang bertujuan melestarikan ajaran Syekh. Murid, setelah masa tertentu, tidak lagi harus bersama gurunya. Mereka boleh
mendirikan cabang di tempat lain. Bahkan banyak cabang tarekat yang pada akhirnya baerbeda dengan tarekat
asalnya. [9]

Dalam kaintan inilah muncul dan
berkembangnya berbagai organisasi tarekat atau aliran tasawuf hingga saat ini.
Hubungan Tarekat dengan Tasawuf
Secara kelembagaan, tarekat pada dasarnya
tidak dikenal dalam Islam hingga abad ke-8 H atau abad ke-14 M. Artinya, tarekat sebagai organisasi dalam dunia tasawuf, dapat dianggap sebagai hal baru yang tidak pernah dijumpai dalam tradisi Islam periode awal, termasuk pada masa Nabi.

Tidak heran jika hampir semua jenis tarekat yang dikenal saat ini selalu dinisbahkan kepada nama-nama para wali atau ulama
belakangan yang hidup berabad-abad jauh setelah Nabi. [10]

Pada hakekatnya tarekat adalah suatu cara
pensucian jiwa di dalam tasawuf yang ditempuh oleh seseorang atau sekelompok orang untuk mendekatkan
diri kepada Allah. Kemudian cara ini berkembang dan
menjadi lembaga-lembaga yang terorganisir sedemikian rupa sehingga menjadi semacam organisasi permanen. [11]

Karena itu, sesungguhnya tarekat adalah lanjutan dari usaha pengikut-pengikut sufi untuk lebih
menspesialisasikan praktek pensucian jiwa dengan sebuah sistem yang terpimpin atau terlembagakan.

Dengan kata lain tarekat adalah formalisasi ajaran dan pengamalan tasawuf dalam bentuk yang lebih khusus.

Tasawuf sebagai bentuk pensucian jiwa yang bersifat individual berubah menjadi pensucian jiwa yang bersifat komunal.

Namun istilah tarekat tidak lagi hanya
bermakna tasawuf yang diatur dengan cara tertentu,
tetapi memiliki wilayah makna yang lebih luas, termasuk di dalamnya ajaran sopan santun, cara berzikir, waktu
beramal dan lain-lain. Bahkan tarekat merambah ke masalah shalat, zakat, puasa, haji dan jihad. Semuanya benar-benar tarekat dengan bimbingan dan aturan yang
sudah ada dalam tarekat itu. [12]

Dengan demikian tarekat adalah tasawuf yang
telah melembaga, tasawuf yang telah bersifat kelompok dengan ajaran dan aturan serta cara-cara yang khas
sesuai dengan bimbingan syekh yang mungkin telah ada secara turun-temurun. Tarekat adalah aliran atau cabang-cabang tasawuf yang dikembangkan oleh orang-
orang tertentu yang telah mendapat restu dari tasawuf atau tarekat tempat belajar sebelumnya.

Ada beberapa maqom (tingkatan) bagi orang yang menjalani
titian tasawuf. Dalam setiap titian tersebut, pelakunya akan merasakan situasi-situasi tertentu.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengurai tingkatan
tasawuf tersebut di gedung PBNU, Jakarta, Senin malam, (28/01/2012).

Peserta pengajian tersebut adalah pengurus
lajnah, banom dan lembaga di PBNU.

“Yang pertama adalah taubat atau mohon ampunan kepada Allah. Taubat itu bukan hanya sekadar mengucap
astaghfirullah, tapi perubahan sikap. Astghafirullah hanya
lafadnya,” ungkap kiai kelahiran Cirebon 1953 tersebut.

Kiai yang pernah nyantri di Lirboyo dan Krepyak tersebut menambahkan, taubat itu sendiri terbagi ke dalam tiga
tingkatan. Taubatnya orang awam, yaitu taubat dari segala
dosa. Taubatnya ulama, yaitu taubat dari lupa. Dan taubatnya
ahli tasawuf, taubat dari merasa dirinya ada (eksis).

“Setiap orang yang merasa dirinya “ada”, bisa jatuh ke dalam kemusyrikan,” ujar kiai yang juga doktor (S3) University of
Umm Al-Qura Jurusan Aqidah atau Filsafat Islam, lulus pada tahun 1994.

Kita ini adalah “maujud” (diadakan). Kita hidup 30, 50, 100
tahun hanyalah “diadakan”. Sedangkan yang “ada” (wujud)
hanyalah Allah. Dialah yang mengadakan kita. Kita harus merasa sementara dan diadakannya.

Tidak ada “aku” yang sesungguhya, kecuali “Aku”nya Allah, la
ilaha ila ana. Tidak ada “dia” yang sesungguhnya kecuali
“Dia” allah, lai ilaha ilah huwa. Tidak ada kamu yang sesungguhnya, kecuali Kamu Allah, la ilaha ila anta.

Setelah taubat, sambung bapak dari empat anak ini, akan timbul tingkatan selanjutnya,

yaitu waro’i. Orang yang
mencapai maqom ini melihat segala sesuatu dengan hati-hati.
Yang tidak betul-betul halal, tidak akan diambilnya. Tidak akan mengambil kedudukan yang bukan miliknya.

“Kalau waro’i sudah selesai, timbul zuhud,” tambah kiai yang akrabdisapa Kang Said tersebut.

Zuhud adalah memandang rendah dunia. Misalnya dapat uang
10 juta biasa-biasa saja. Hilang 10 juta juga biasa-biasa saja. Seperti Gus Dur. Saya melihat, ketika dia sebelum
presiden, dia bersikap biasa saja. Ketika jadi presiden, bersikap biasa saja. Begitu juga ketika dia tidak jadi presiden.

Kang Said menegaskan, zuhud itu bukan berarti harus melarat, tapi lebih pada sikap. Orang kaya bisa zuhud, orang melarat bisa serakah. Tapi zuhud lebih pada sikap dan cara pandang
orang terhadap dunia. Ia menyikapi selain Allah itu kecil.

Tiga tingkatan tersebut berada dalam proses takhalli atau pembersihan diri.

Efek kejiwaan sementara orang dalam
tingkatan ini adalah khauf, atau takut kepada Allah. “Segala amal soleh dan ibadah yang dilakukannya adalah lita’abud ,
untuk beribadah.” Para pelaku tasawuf yang telah meniti tiga maqom (tingkatan) sebelumnya (taubat, wira’i dan zuhud,
akan menjalani maqom-maqom selanjutnya, yaitu tawakal, ridho, dan syukur.

“Tawakal adalah pasrah kepada Allah,” kata kiai kelahiran Cirebon 1953 tersebut.

Orang yang tawakal, jika melakukan sesuatu, tidak mengandalkan upayanya, tapi hanya kepada Allah. Hujjataul
Islam, Imam Ghazali mencontohkan orang tawakal. Misalnya,
ketika api yang membakar kertas, dan terbakar, ia mengatakan
yang membakar kertas itu memang api, tapi atas kehendak Allah.

Buktinya, sambung kiai yang pernah nyantri di Pesantren Kempek, Lirboyo, dan Krapyak tersebut, adalah Nabi Ibrahim
ketika dibakar Namrud. Api tak kuasa membakarnya sebab
Allah tidak mengizikannya.

“Setelah tawakal akan muncul ridho.”
Ridho itu, lanjut kiai yang menggondol doktor dari University
of Umm Al-Qura Jurusan Aqidah/Filsafat Islam, lulus pada
tahun 1994, apapun yang terjadi, apapun yang didapat, diterima dengan suka cita, tidak sedikit pun gelisah dan mengeluh.

“Jadi guru SD, jadi dosen; jadi Ketua PBNU atau Ketua
Ranting, diterima,” jelas kiai yang akrab disapa Kang Said.

Setelah ridho, akan muncul syukur. Syukur adalah selalu mensyukuri apa yang diterima dari Allah. Apapun wujudnya
tetap bersyukur. “Ketika diredaksikan, syukur itu mengucap Alhamdulillah.
Tapi bukan berarti ucapan saja, melainkan
sikap.

Tiga maqom ini adalah berada dalam proses tahalli , menghias
diri. Biasanya timbul efek spiritual temporal roja’, optimis kepada Allah.

Sementara ibadah dalam maqom ini adalah li-
taqorub (mendekatkan diri) kepada Allah. Bukan ingin sorga
atau benci dengan neraka, tapi ingin dekat dengan Allah.

Para pelaku tasawuf yang telah meniti tiga maqom (tingkatan)
sebelumnya, yaitutawakal, ridlo , dan syukur akan menjalani maqom-maqom selanjutnya, yaitu mahabbah, tuma’ninah, dan
ma’rifat.

Mahabbah adalah maqom cinta kepada Allah. Kalau sudah cinta kepada-Nya, kepada apapun cinta, mencintai segalanya.
Orang yang menapaki maqom tersebut, yang cantik, yang jelek, yang pintar, yang bodoh, yang kaya, yang miskin; semua
dicintainya.

“Karena semuanya yang ada itu adalah tanda-tanda keagungan Allah,” ungkap kiai kelahiran Cirebon 1953 tersebut.

Kalau sudah mahabbah, akan tumbuh tuma’ninah , atau full
happy, enjoy . Hati orang yang menempuh
jalan tuma’ninah adalah tenang.

“Tuma’ninah bukan di rumah, mobil, uang, tapi dalam hati,” tambahnya.

Setelah maqom tuma’ninah , muncul maqom terakhir, ma’rifat .
Kiai yang akrab disapa Kang Said ini menjelaskan, maqom ini
dengan pengalaman Imam Ghazali sepulang menyepi di masjid Damaskus. Setelah keluar dari masjid tersebut, ia tak
bisa mengatakan pengalamannya.

“Ilmu ma’rifah tak bisa dituliskan. Tak bisa diceritakan. Tidak
bisa diajarkan dengan kata-kata,” ujar kiai yang pernah nyantri di Pesantren Kempek, Lirboyo dan Krapyak tersebut.
Orang yang sedang mengalami maqom ma’rifat , tahu betul
bahwa segala sesuatu dari Allah, untuk Allah, karena Allah, bersama Allah. Tanpa itu sedetik saja, dunia hancur.

Kiai yang juga doktor jebolan University of Umm Al-Qura
Jurusan Aqidah/Filsafat Islam menegaskan, ketiga maqom
tersebut dinamakan tajalli (manifestasi). Allah sudah menjelma dalam segala keadannya.
Dampak spirutual temporalnya adalah al-uns, harmonis. Amal
salehnya, bukan karena lita’abud (ibadah), bukan litaqorub
(ingin dekat dengan Allah), melainkan litahaquq (mencari hakikat).

Maqom-maqom tersebut adalah versi ringkasnya. Para ahli tasawuf berbeda rincian maqomnya. Misalnya, menurut Syekh Abdul Qodir Jilani, terdapat 40 maqom tasawuf. Sementara
Imam Ghazali berpendapat ada 14 tingkatan. ”

[1] KH. Said Aqil Siraj, pada kuliah Tasawuf Program
S2 SKI STAINU Ciganjur, Sabtu, 19 Oktober 2013
[2] Mahrus eL-Mawa, Naskah Syattariyah Cirebon:
Riset Awal dalam Konteks Jejaring Islam Nusantara, Annual
Conference On Islamic Studies (ACIS) Ke-10, h.314
[3] Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai
Aspeknya, (Jakarta: UI Press, 1986), jilid II, cet. ke-1, h. 89
[4] Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren: Studi
Pandangan Hidup Kyai dan Visinya Mengenai Masa Depan
Indonesia, (Jakarta: LP3ES, 2011), cet. ke-9, h. 212
[5] Samsul Munir Amin, Ilmu Tasawuf,
(Jakarta:Amzah, 2012), h. 294
[6] Oman Fathurahman, Tarekat Syattariyah di
Minangkabau: Teks dan Konteks , (Jakarta: Prenada Media
Group, 2008), cet. ke-1, h. 25
[6] Samsul Munir Amin, Ilmu Tasawuf, h. 290
[8] Samsul Munir Amin, Ilmu Tasawuf, h. 297
[9] Khairuddin, Inabah; Jalan Kembali dari Narkoba,
Stress dan Kehampaan Jiwa , (Jakarta, Bina Ilmu, 2005), h.
122.
[10] Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah
dan Kepulauan Nusantara Abad XVII-XVIII , (Bandung: Mizan,
1994), cet.ke-1, h. 109
[11] Said Hawa, Terj. Khairul Rafie M dan Ibn Thoha
Ali, Jalan Ruhani , (Bandung; Mizan, 1995 ),, h. 95.
[12] Khailili Albamar, Ajaran Tarekat, Bintang
Remaja , ttp, tt, h. 47-82.

Sumber di transkrif dari video di bawah ini.

Simak videonya ceramah Tasawwuf bersama KH said aqil siradj di Masjid Agung Sunda Kelapa.

http://m.youtube.com/watch?v=9Cv5-X-nQGk&itct=CCEQpDAYASITCPSi8qbV3sECFUsifgodeB0ACTIHcmVsYXRlZEjXsKrn4Nrj-74B&client=mv-google&hl=id&gl=ID


simak videonya
Kang Said Tasawwuf part 1
lengkapnya part 2,3,4.

http://m.youtube.com/watch?v=vveO1gzqmFc&itct=CCMQpDAYCSITCMDfsZXU3sECFcIifgodiloANFIRU2FpcyBhcWlsIHRhc2F3dWY%3D&client=mv-google&gl=ID&hl=id

Minggu, 02 November 2014

GUDUR KETURUNAN MANA?

GUSDUR KETURUNAN YAMAN!

Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) melakukan
kunjungan resmi ke Pandeglang, Banten. Pada waktu itu
sedang ramai tuntutan pembentukan Propinsi Banten tersendiri, lepas dari cakupan administratif Propinsi Jawa
Barat. Di hadapan tokoh-tokoh Banten, termasuk utusan-
utusan khusus suku Badui, Presiden membuat pernyataan tegas: “Saya adalah orang yang paling mendukung
pembentukan Propinsi Banten!”

Hadirin bersorak gembira dan bertepuk-tangan panjang sekali.

“Kenapa?” Presiden beretorika, “karena saya ini juga keturunan Banten! Silsilah keluarga saya dan Mbak Mega,
Bung Karno, bertemu pada kakek buyutnya Syaikh Muhammad
Nawawi Banten, yaitu Maulana Ishaq at-Tabarqi…”

Lain waktu, pada perjamuan perayaan tahun baru Imlek, di hadapan tokoh-tokoh kalangan keturunan Tionghoa di Jakarta, Presiden pun lantang: “Semua orang tahu, dari
dulu saya ngotot melindungi dan membela hak-hak kaum keturunan Tionghoa di negeri ini!”

Lagi-lagi tepuk-tangan membahana menyambutnya.

“Kenapa?” lanjut Presiden setelah tepuk-tangan mereda, “karena saya sendiri juga keturunan Tionghoa!”

Hadirin tertawa, mengira beliau sedang bercanda seperti biasa.

“Serius!” Presiden memotong tawa mereka, “Leluhur
saya berasal dari Tionghoa, dari she (marga) Tan. Namanya:
Tan Kim Han!”
Di Sanaa (Shan’aa), ibukota Republik Yaman, di tengah jamuan kenegaraan menyambut kunjungan resmi
Presiden Republik Indonesia, di hadapan Presiden Ali
Abdullah Shaleh dan para tokoh dari qabilah-qabilah utama
di Yaman, Presiden Abdurrahman Wahid menegaskan: “Ana
kaman Yamani… min Basyaiban!” (Saya ini juga orang
Yaman… dari marga Basyaiban).

Sayang sekali saya tidak ikut serta ketika beliau berkunjung ke Venezuela. Entah apa yang beliau katakan di
hadapan para kepala suku Indian pendukung Hugo Chavez
di sana.

Mungkin kalau pas berkunjung ke Rembang, Gus Dur dengan tegas mengatakan: “Piye leh? Aku yo keturunan
Lasem je’! Songko Mbah Sambu Lasem alias Sayyid
Abdurrahman Basyaiban!”

(Oleh: KH. Yahya Cholil Staquf , di fp facebook:
Terong Gosong dengan judul “Diplomasi Ketawa: Gus Dur
Keturunan Mana?” ).